Kamis, 05 Februari 2026

Karena Aku Hanya Bertanya

Sumber: Siti Anjarwati

Penulis: Siti Anjarwati

Apa yang aku pikirkan belum tentu aku utarakan. Sebagian ada yang aku ungkapkan, ada yang aku pendam dan ada juga yang sengaja aku lupakan. Jika ditanya mengapa aku melakukan itu semua, aku akan menjawab “aku tidak ingin hal yang tidakku inginkan terjadi”

Mungkin jika kamu membaca kalimatku itu, pasti muncul beberapa pertanyaan, seperti (ngga sanggup ambil konsekuensi dong, ya kan ngga tau gimana ke depannya) atau mungkin masih banyak lagi. But, it’s okay.. kalian boleh berpikiran apapun tentang kalimatku tadi.

Jujur saja, saat aku menulis buku ini, aku pun belum tau apakah buku ini bisa menjelaskan kalimatku itu atau tidak. Jujur saja, buku ini berisi tentang sepenggal kisahku dengan plotwish yang membagongkan.. hahahaha. Sebagai contoh, ada bagian dari diriku yang ternyata menyukai rasa sakit, yang bahkan tubuhku saja tidak mampu menahannya. Aneh bukan? (bodohnya, sampai aku tidak bisa menjelaskan kenapa hal itu terjadi.) seharusnya hal semacam inilah yang harusku hindari. Kupikir akan berbahaya jika terus menerus seperti itu. Tetapi bagian dari diriku yang entah dimana letaknya, yang aku sendiri tidak tau mencoba memaksa untuk mencari kebenaran dari rasa sakit itu.

Aku merasa seperti orang bodoh dan linglung dengan apa yang terjadi padaku dalam beberapa bulan belakangan ini. Tapi aku mampu melewatinya, atau… mungkin saja belum. Ntahlah aku lelah memikirkannya..

Beberapa waktu belakangan, aku rasa jauh lebih rumit. Ada hal yang tidak bisa aku jelaskan, tapi sangat melekat diingatanku. Yang jelas hal itu membuat napasku tidak beraturan, wajahku memanas dan kepalaku sakit. Tubuhku bergetar hebat, kakiku dingin.. membeku. Aku memeluk luka dan diriku sendiri. Aku SAKIT..

Aku menyadari perubahan yang terjadi pada diriku, aku tidak bisa bilang bahwa aku baik-baik saja. Aku sakit, aku benar-benar sakit, tapi bukan sakit yang bisa disembuhkan dengan obat minum. Sering kali perubahan itu mendatangi diriku, bukannya mengusir rasa sakit itu, aku lebih memilih untuk membiarkannya, rasa sakit yang menggerogoti perasaan dan pikiranku (mungkin sampai sekarang)..

Secara sadar atau tidak, aku mendukung bagian diriku untuk semakin menyukai rasa sakit itu (bukankah itu hal bodoh?). Mau tau kenapa aku melakukan itu?? Saat aku merasakan rasa sakit, aku merasa dia mendengarkan dan merasakan rasa sakitku, lalu aku merasakan seolah-olah dia sedang memberiku banyak nasehat dan cerita lucu yang membuatku lega dan itu sampai ke alam sadarku. (dibagian ini, sepertinya aku mulai menemukan jawaban).

AKU MERINDUKANNYA…


Harusnya aku meminta bantuan agar aku sembuh, setidaknya agar rasa sakitku sedikit pudar. Tapi yang aku lakukan adalah berdiam diri dan menyaksikan hal itu terulang lagi (dan lagi). Bagian didalam diriku menyukai sakit itu.. aku pernah di titik dimana bagian tubuhku berterima kasih kepadaku karena sudah mau merasakan sakit itu lagi, dan kalian tau apa yang terjadi pada hati dan pikiranku?? Kami (iya kami, termasuk aku) merasa ada didalam ruang gelap, pengap, sempit, dan dingin. Kami saling memeluk satu sama lain agar saling sadar. Sayangnya saat kami tau jika itu membuat bagian dari diriku lega dan tersenyum, kami rela mengalah dan membiarkan kami terus menerus berada di ruangan itu walaupun itu menyakitkan.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Ntah berapa purnama yang telahku lewati, tanpaku sadari hanya tinggal diriku sendiri yang ada diruangan itu, didalam ruang gelap, pengap, sempit, dan dingin. Disitu aku belum menyadari bahwa aku sendirian, padahal dikehidupan nyata, aku sedang melakukan akivitas seperti biasa. Aneh bukan? Tapi memang itu kenyataannya.

Di sisi lain, bukannya mencari jalan keluar, aku malah memandang ruangan itu. Padahal tidak ada yang bisa aku lihat, tapi aku bisa merasakan bahwa aku tidak lagi di ruang yang sama. Ruangan ini BERBEDA! Keadaannya makin gelap, makin pengap dan makin dingin. Aku kesulitan bernapas, napasku berantakan dan tersengal-sengal. Ternyata di kehidupan nyataku, aku habis habisan menangis karena sebuah pertanyaan.


~~~~